Senja di Kota Tua
Langit mulai berwarna jingga saat Dina menjejakkan kaki di jalanan berbatu Kota Tua. Suara langkah sepatunya menggema pelan di antara bangunan tua yang seolah berbisik dalam diam. Dinding-dinding lapuk dengan jendela kayu yang berderit tampak menyimpan banyak cerita, lebih tua dari usia hidup siapa pun yang kini melangkah di sini.Dina kembali ke kota itu bukan karena pekerjaan atau liburan. Ia kembali karena mimpi. Mimpi yang datang hampir setiap malam sejak sebulan lalu — seorang pria tua duduk di bangku taman dekat menara jam, menatapnya dengan mata sedih. Wajah itu asing, namun terasa akrab, seakan berasal dari kehidupan yang pernah ia lupakan.Ia menyusuri jalan yang mengarah ke taman yang ada di mimpi itu. Daun-daun kering beterbangan, terbawa angin senja yang dingin. Tiba-tiba, suara detakan jam tua terdengar dari kejauhan. Deng… deng… deng… — jam enam tepat.Tiba di taman, bangku kayu yang ia lihat di mimpinya berdiri di bawah pohon trembesi tua. Kosong.Namun, saat Dina duduk dan menatap langit, seorang pria tua muncul dari balik bangunan tua — mengenakan jas coklat lusuh, dengan tongkat kayu dan mata yang berkaca-kaca. Tanpa berkata apa pun, ia duduk di sebelah Dina."Akhirnya kau datang," katanya pelan, suaranya serak seperti daun kering digesek angin.Dina menoleh, jantungnya berdegup kencang. "Anda… siapa?""Aku hanya bagian dari kenangan yang kau tinggalkan. Kota ini menyimpannya untukmu."Dina menatap pria itu dalam diam. Potongan-potongan memori menyeruak — seorang kakek yang sering membacakan dongeng di bawah pohon, senyumnya yang hangat, dan lagu dari kotak musik kayu yang selalu diputar sebelum tidur."Kakek…?" bisiknya, air mata menetes tanpa sadar.Pria tua itu tersenyum dan mengangguk. "Kota tua ini tak pernah lupa. Ia menunggu, hingga kau siap mengingat."Saat lonceng jam berdentang lagi, pria tua itu perlahan memudar. Dina menggenggam bangku tempat ia duduk, kini kosong kembali.Namun kali ini, hatinya tak lagi berat. Ia berdiri, menatap menara jam yang terus berdetak — saksi bisu dari waktu dan kenangan yang tak pernah benar-benar pergi.[AceHand SPECTaceLAR]
Kakek tu cupcake ke...?
Jizzz... Klong! Klong!
Pages:
[1]